Kamu Tahu Nggak? Beauty Ternyata Nggak Bisa Dipisahkan dari Lifestyle Kamu

ABBY AND GAIL - Beauty dan lifestyle ternyata punya hubungan yang lebih dekat dari yang kita kira.
Cara kamu menjalani hari, aktivitas yang paling sering dilakukan, lingkungan yang kamu temui, sampai hal-hal yang membuat kamu nyaman ternyata bisa memengaruhi cara kamu merawat diri, memilih produk, dan mengekspresikan diri.
Hal ini menjadi salah satu cerita yang dibawa melalui FYP - Find Your Persona Abby and Gail lewat empat persona dengan lifestyle yang berbeda: Alisha, Rena, Bimo, dan Ray.
Coba bayangkan. Orang yang setiap hari bekerja sampai malam tentu punya kebutuhan beauty yang berbeda dari seseorang yang rutin olahraga.
Begitu juga dengan orang yang hampir selalu berada di dunia digital atau seseorang yang lebih dekat dengan musik, komunitas, dan berbagai pengalaman.
Jadi, beauty sebenarnya bukan hanya tentang:
“Produk apa yang bagus?”
Ada pertanyaan lain yang nggak kalah penting:
“Apa yang cocok dengan lifestyle aku?”
Kenapa Lifestyle Bisa Memengaruhi Beauty Routine?
Beauty routine tidak muncul begitu saja.
Kebiasaan sehari-hari ikut menentukan produk dan rutinitas yang terasa paling nyaman untuk seseorang.
Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan mungkin lebih memperhatikan sunscreen.
Sebaliknya, seseorang dengan jadwal yang padat mungkin membutuhkan skincare dan makeup yang praktis.
Sementara itu, beauty enthusiast yang suka bereksperimen bisa menjadikan makeup sebagai ruang untuk mencoba berbagai gaya.
Artinya, kebutuhan beauty bisa berubah mengikuti cara kita menjalani hidup.
Hal inilah yang kemudian coba digambarkan melalui empat persona FYP.
1. Alisha — Chronically Online
Alisha sangat dekat dengan dunia digital. Hampir setiap hari, ia membuat konten beauty, mereview produk, mengikuti creator favorit, dan memperhatikan apa yang sedang ramai di media sosial.
Awalnya, semua terasa menyenangkan. Ia bisa mendapatkan inspirasi makeup, menemukan produk baru, atau belajar membuat konten dari creator lain.
Namun, semakin lama berada di dunia digital, semakin mudah pula ia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ia melihat content creator beauty lain mendapatkan engagement tinggi. Kontennya ramai, komentar terus masuk, dan follower mereka bertambah cepat.
Sementara itu, ketika melihat performa kontennya sendiri, angkanya tidak bergerak secepat yang ia harapkan.
“Kok mereka bisa cepat banget, ya?”
Pertanyaan sederhana itu perlahan berubah menjadi rasa insecure.
Beauty untuk Alisha
Bagi Alisha, beauty bukan hanya tentang produk atau makeup look. Beauty juga sudah menjadi bagian dari dunia yang ia bagikan kepada orang lain melalui konten.
Karena itu, ketika kontennya tidak mendapatkan respons seperti yang ia harapkan, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Apa konten aku kurang bagus?”
“Apa aku kurang menarik?”
“Kenapa mereka bisa, tapi aku nggak?”
Padahal, angka engagement tidak selalu menentukan seberapa berharga dirinya atau seberapa baik perjalanan yang sedang ia jalani.
Di tengah dunia yang terus menunjukkan pencapaian orang lain, Alisha perlu belajar bahwa perjalanan setiap creator punya waktunya sendiri.
Tidak semua orang harus tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Dan mungkin, “klakson” yang paling sering ia dengar bukan datang dari orang lain, melainkan dari dirinya sendiri:
“Cepat. Kamu harus bisa seperti mereka.”
Di sinilah lifestyle Alisha memperlihatkan sisi lain dari dunia Chronically Online. Terlalu sering melihat perjalanan orang lain bisa membuat kita lupa bahwa kita juga sedang menjalani perjalanan sendiri.
2. Rena — Workaholic
Rena terbiasa menjalani hari dengan ritme yang cepat.
Pekerjaan, target, dan tanggung jawab menjadi bagian dari kesehariannya. Ia selalu berusaha menyelesaikan apa yang sudah dimulai dan membangun hidupnya dengan caranya sendiri.
Namun, di balik kesibukannya, ada satu suara yang sering muncul dari lingkungan sekitar.
Bukan suara deadline.
Bukan suara pekerjaan.
Tapi pertanyaan yang mungkin sudah sering didengar banyak orang:
“Kapan nikah?”
Pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi bisa terasa seperti tekanan ketika datang berulang kali.
Saat melihat teman-teman seusianya mulai menikah, membangun keluarga, atau memasuki fase hidup yang berbeda, Rena mulai bertanya pada dirinya sendiri:
“Apa aku terlambat?”
Padahal, bukan berarti Rena tidak ingin memiliki hal tersebut.
Ia hanya masih menjalani prosesnya sendiri.
Beauty untuk Rena
Dengan lifestyle yang penuh tanggung jawab, beauty bagi Rena bisa menjadi bentuk self-care dan cara menghargai diri sendiri.
Di tengah banyaknya ekspektasi yang datang dari luar, merawat diri menjadi momen untuk kembali terhubung dengan dirinya.
Bukan untuk memenuhi standar orang lain.
Bukan karena harus terlihat sempurna.
Tetapi karena ia ingin merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
Rena mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus mengikuti timeline yang dibuat orang lain.
Karier, hubungan, dan pencapaian memiliki waktunya masing-masing.
Karena terkadang, “klakson” yang paling keras bukan berarti tanda bahwa kita tertinggal.
Mungkin itu hanya pengingat untuk berhenti sebentar dan bertanya:
“Apa yang sebenarnya aku inginkan?”
3. Bimo — Sporty
Berbeda dari Rena, Bimo lebih dekat dengan aktivitas fisik.
Olahraga dan gaya hidup aktif menjadi bagian dari kesehariannya. Karena itu, kebutuhan beauty-nya pun mengikuti aktivitas tersebut.
Keringat, aktivitas outdoor, paparan matahari, hingga rutinitas setelah olahraga menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Lifestyle Bimo
Bimo menikmati aktivitas yang membuat tubuh terus bergerak.
Ia tidak hanya memperhatikan bagaimana dirinya terlihat, tetapi juga bagaimana tubuhnya terasa setelah beraktivitas.
Beauty untuk Bimo
Beauty menjadi bagian dari active lifestyle.
Sunscreen sebelum beraktivitas di luar ruangan, membersihkan wajah setelah berkeringat, serta menjaga kelembapan kulit bisa menjadi bagian dari rutinitasnya.
Bagi Bimo, beauty tidak harus rumit.
Yang penting nyaman dan bisa mengikuti aktivitasnya.
4. Ray — Skena
Ray memiliki lifestyle yang berbeda lagi.
Musik, komunitas, tempat yang dikunjungi, dan berbagai pengalaman menjadi bagian dari cara ia mengenal dirinya.
Bagi Ray, sesuatu yang punya karakter bisa terasa lebih menarik daripada sekadar mengikuti apa yang sedang populer.
Lifestyle Ray
Ray menikmati pengalaman dan suasana.
Ia bisa menemukan identitas melalui musik yang didengar, komunitas yang diikuti, tempat yang dikunjungi, hingga berbagai hal yang menjadi bagian dari kesehariannya.
Beauty untuk Ray
Beauty bisa menjadi bentuk personal expression.
Gaya rambut, outfit, fragrance, atau makeup dapat menjadi cara untuk menunjukkan karakter tanpa harus banyak menjelaskan.
Karena itu, Ray mungkin tidak terlalu bertanya:
“Apa yang sedang tren?”
Melainkan:
“Apa yang paling terasa seperti gue?”
Empat Lifestyle, Empat Cara Menikmati Beauty
Kalau diperhatikan, keempat persona ini memiliki kebutuhan yang berbeda.
Alisha dekat dengan dunia digital dan eksplorasi tren.
Rena membutuhkan beauty yang bisa mengikuti kesibukan dan menjadi bagian dari self-care.
Bimo menghubungkan beauty dengan aktivitas dan gaya hidup aktif.
Ray menggunakan beauty sebagai bagian dari personal expression.
Perbedaannya menunjukkan satu hal:
Tidak semua orang membutuhkan beauty routine yang sama.
Apa yang cocok untuk seseorang belum tentu terasa relevan untuk orang lain.
Jadi, Beauty Kamu Mencerminkan Lifestyle Kamu?
Coba lihat rutinitasmu sendiri.
Kalau sebagian besar waktumu berada di depan layar, mungkin kamu punya kebutuhan yang berbeda dari seseorang yang sering berada di luar ruangan.
Kalau pekerjaan memenuhi hampir seluruh harimu, kamu mungkin lebih membutuhkan rutinitas yang praktis.
Sebaliknya, kalau kamu aktif berolahraga, kebutuhan perawatan kulitmu bisa mengikuti aktivitas tersebut.
Kemudian, kalau kamu menjadikan fashion, musik, atau komunitas sebagai bagian dari identitas, beauty mungkin menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan karakter.
Karena itu, beauty bukan hanya tentang apa yang kamu pakai. Beauty juga tentang bagaimana kamu menjalani hidup.
Dari Lifestyle ke Find Your Persona
Pemikiran inilah yang menjadi bagian dari konsep FYP — Find Your Persona Abby and Gail.
FYP tidak hanya mengajak orang melihat beauty dari sisi produk. Konsep ini juga menghubungkan beauty, lifestyle, personal identity, dan pengalaman.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Produk apa yang sedang viral?”
Tetapi:
“Apa yang sebenarnya cocok untuk aku?”
Bukan hanya:
“Orang lain pakai apa?”
Tetapi:
“Aku suka apa?”
Dan yang paling penting:
“Aku sebenarnya seperti apa?”
FYP Mengajak Kamu Menemukan Persona Sendiri
Empat persona FYP memperlihatkan bahwa setiap orang punya cara berbeda dalam menjalani hidup.
Alisha dengan dunia digitalnya.
Rena dengan kesibukan dan pekerjaannya.
Bimo dengan gaya hidup aktifnya.
Ray dengan musik, komunitas, dan pengalamannya.
Tidak ada yang lebih baik atau lebih benar.
Masing-masing hanya punya cara sendiri untuk menjalani kehidupan.
Begitu juga dengan beauty.
Kamu nggak harus mengikuti beauty routine orang lain hanya karena terlihat cocok di mereka.
Kamu bisa menemukan versi yang paling sesuai dengan dirimu sendiri.
Kenali Lifestyle Kamu, Baru Temukan Beauty yang Cocok
Mungkin selama ini kita terlalu sering mulai dari produk.
Melihat sesuatu viral, lalu mencari produknya.
Melihat seseorang punya makeup look tertentu, lalu mencoba menirunya.
Padahal, kita bisa mulai dari arah sebaliknya.
Kenali aktivitasmu.
Pahami kebutuhanmu.
Cari tahu apa yang membuatmu nyaman.
Setelah itu, pilih beauty routine yang bisa mengikuti kehidupanmu.
Karena beauty yang cocok bukan selalu yang paling viral, tetapi yang paling sesuai dengan kamu.
Temukan Persona Kamu di FYP Beauty Event Bandung

Pada akhirnya, beauty tidak punya satu bentuk yang berlaku untuk semua orang.
Cara Alisha menjalani hari berbeda dari Rena.
Ritme Bimo berbeda dari Ray.
Begitu pula dengan kebutuhan beauty mereka.
Jadi, sebelum bertanya “Aku harus pakai produk apa?”, mungkin ada baiknya bertanya:
“Aku sebenarnya seperti apa?”
Karena ketika kamu sudah mengenal lifestyle dan kebutuhanmu sendiri, pilihan beauty pun bisa terasa lebih personal.
Find Your Persona
FYP Beauty Event Bandung
21–25 Oktober 2026 · Braga8 Bandung.



